Disusun oleh
Nur Widhi Adhianingsih
1401410221
4B
MAKUL : SENI MUSIK
PEMBELAJARAN MENARIK
MULTIKECERDASAN
SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN KARAKTER
ANAK
MELALUI PEMBELAJARAN LAGU WAJIB
NASIONAL DI SD
ABSTRAK
Pendidikan seni memberikan
keseimbangan rasional, emosional, dan kegiatan motorik salah satunya melalui
kegiatan seni musik. Pendidikan seni ini digunakan sebagai metode atau alat
untuk mencapai tujuan pendidikan yang menenekankan pada proses disertai dengan
hasil. Pembelajaran seni, khususnya seni
musik tidak mengharapkan anak menjadi seorang seniman, melainkan wahana
berkreasi dan berimajinasi. Namun apabila akhirnya dari pembelajaran seni musik ini menjadi seniman
maka itu adalah dampak ikutan. Oleh sebab itu pembelajarannya menekankan pada
eksplorasi dan eksperimentasi yang merangsang keingintahuan dan sekaligus
menyenangkan bagi anak, sebab karakteristik anak SD adalah belajar sambil
bermain. Pendidikan seni musik memberikan
gambaran kepada siswa untuk mengetahui kemampuan atau dasar-dasar teknik bernyanyi,
mengetahui unsur-unsur musik , dan kegiatan apresiasi. Pembelajaran seni musik melalui lagu wajib nasional ini diharapkan bisa
menggali empati siswa dan menumbuhkan rasa bangga atau nasionalisme siswa terhadap bangsa Indonesia. Guru atau sekolah
ikut berperan dengan melakukan pembiasaan untuk memutar lagu-lagu
nasional sebelum pelajaran di mulai di pagi hari, demikian juga ketika
pembelajaran seni musik berakhir, sehingga siswa tidak asing terhadap lagu
wajib nasional nya sendiri. Pembiasaan lagu wajib nasional menjadi tidak hanya
sekedar ingatan atau hafalan saja, namun dihayati dan dikenang sepanjang hayat
sebagai sesuatu yang sudah mengakar dalam diri sehingga tebentuk karakter yang
berbudi luhur.
KATA
KUNCI
Nasionalisme, lagu wajib nasional, pendidikan karakter.
PENDAHULUAN
Pendidikan
adalah upaya sadar seseorang untuk dapat memperoleh pengetahuan. Sedangkan
pendidikan seni menurut Plato menyatakan bahwa “ seni seharusnya menjadi
dasar pendidikan “ ( Read, 1970). Sedangkan menurut J. Dewey (dalam Dorn, 1994)
bahwa seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan
bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. Pendidikan di Indonesia ditengarai
kurang berbasis pada pendidikan karakter Pancasila, melainkan lebih mendominankan
pendidikan pada keunggulan berpikir logika kognitif belaka. Menurut Mahatma
Gandhi pendidikan tanpa basis karakter adalah salah satu dosa yang fatal. Theodore
Roosevelt juga pernah menyatakan bahwa: “to
educate a person in mind and not in
morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek
kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada
masyarakat) (Russell T. Williams, 2010;
Ratna Megawangi, 2010). Hal ini membuktikan pendidikan karakter itu sangat penting dan
tepat untuk dikembangkan dan dilaksanakan di Indonesia.
Di era
globalisasi ditandai adanya perubahan di berbagai sektor kehidupan yang
menimbulkan dampak positif dan negatif. Hal ini juga berdampak pada lagu-lagu
yang sering didengar siswa dengan genre
dewasa, dan bersifat komersil. Secara psikologis lagu-lagu itu tidak sesuai dengan
perkembangan siswa, sebab ada beberapa
kata-kata untuk orang dewasa. Pendidikan sebagai sarana untuk menjembatani
semua itu dan membentuk kepribadian anak, dan
melalui pendidikan seni inilah berkewajiban mengarahkan ketercapaian
tujuan pendidikan secara umum yang memberikan keseimbangan rasional dan
emosional, intelektualitas dan sensibilitas. Dalam hal ini pendidikan seni
sebagai wadah untuk berekspresi bagi anak agar anak merasa senang dan akhirnya
tercapai titik kepuasan dan anak-anak dapat melepaskan segala problem atau
perasaan yang dihadapi. Pendidikan seni khususnya seni musik memberikan
pengalaman kepada siswa untuk mengenal teknik dasar bernyanyi, unsur-unsur
musik, menggali dan menumbuhkan rasa empati atau apresiasi terhadap lagu yang
diberikan. Meskipun alokasi yang diberikan lebih sedikit dari mata pelajaran
lain yaitu 2 jam per minggunya, seorang guru harus bisa memanfaatkan waktu itu
dengan mengisi pembelajaran yang berkesan. Namun dalam lapangan ada beberapa
guru yang merasa tidak bisa untuk mengajarkan seni musik dengan alasan tidak
mempunyai bakat, bekal vokal atau pun musikalitas yang memadai. Padahal, seni
merupakan akivitas yang unik dan spesifik. Ada pepatah yang mengatakan bahwa
bakat dapat dicapai dengan 90% latihan. Hal ini menunjukkan bahwa latihan
adalah faktor penting tumbuhnya bakat. Oleh karena itu setiap orang
sesungguhnya memiliki potensi dalam setiap bidang walaupun proporsi potensi
pada setiap bidang berbeda-beda. Ironisnya pembelajaran seni musik ini belum sepenuhnya
menggali rasa empati dan nasionalisme dari siswa, terlebih ketika guru
memberikan materi lagu wajib nasional siswa hanya sekedar bersifat hafalan dan
ingatan saja.
PEMBAHASAN
Pendidikan
Karakter
Pendidikan
karakter merupakan program pemerintah yang harus dilaksanakan di setiap satuan
pendidikan. Sebagaimana Konstitusi Indonesia telah mengamanatkan pentingnya pendidikan karakter,
seperti bunyi pasal 31 ayat 3 yaitu “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan
undang-undang”. Untuk menjalankan amanah itu maka UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional menetapkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional
yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Berdasarkan grand design yang dikembangkan
Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter
dalam diri individu merupakan fungsi
dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan
psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah,
dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat
dikelompokkan dalam: olah hati (Spiritual
and emotional development) , olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (Physical
and kinestetic development), dan
olah rasa dan karsa (Affective and
Creativity development).
Pendidikan karakter
merupakan upaya - upaya yang
dirancang dan dilaksanakan secara
sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia
yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya,
dan adat istiadat.
Character Education Quality
Standards merekomendasikan 11 prinsip untuk mewujudkan
pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut.
1.
Mempromosikan nilai-nilai dasar etika
sebagai basis karakter.
2.
Mengidentifkasi karakter secara komprehensif
supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku.
3.
Menggunakan pendekatan yang tajam,
proaktif dan efektif untuk membangun karakter.
4.
Menciptakan komunitas sekolah yang
memiliki kepedulian.
5.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk
menunjukkan perilaku yang baik.
6.
Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang
bermakna dan menantang yang menghargai semua siswa, membangun karakter mereka
dan membantu mereka untuk sukses.
7.
Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri
dari para siswa.
8.
Memfungsikan seluruh staf sekolah
sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter
dan setia kepada nilai dasar yang sama.
9.
Adanya
pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan
karakter.
10.
Memfungsikan keluarga dan anggota
masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.
11.
Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi
staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam
kehidupan siswa.
Pembelajaran
Seni Musik melalui Pembelajaran Lagu Wajib Nasional
Pendidikan
seni musik adalah pendidikan yang mengasah kreativitas, bakat dan minat anak.
Pendidikan ini tidaklah berarti ditujukkan untuk mencetak seniman, melainkan sebagai
wahana berekspresi dan berimajinasi. Jika melalui pendidikan seni musik ini
dapat menghasilkan seniman atau calon
seniman maka sesungguhnya itu hanya dampak pengiring. Oleh karena itu,
pendekatan pendidikan melalui seni dalam implementasi pembelajarannya
menenkankan pada eksplorasi dan eksperimentasi, merangsang keingintahuan dan memberikan
kesan yang menyenangkan bagi siswa. Orientasi
utama pendidikan seni di sekolah-sekolah antara lain untuk menanamkan
nilai-nilai yang dapat mendukung kelestarian suatu tradisi. Nilai-nilai ini
bisa meliputi sejarah, adat-istiadat, tata susila, dan spirit dalam suatu karya
seni. Pendidikan seni antara di sekolah
dan di sanggar itu berbeda, karena dalam sanggar lebih ditekankan pada penguasaan
keterampilan yang mengarah pada keahlian dan profesionalisme sedangkan pendidikan
seni di sekolah formal bertujuan menumbuhkan kepekaan rasa estetis dan budaya
serta pengalaman kreatif yang berfungsi membantu perkembangan siswa dari segi
intelektual, emosional, dan spiritualnya , sehingga siswa memiliki keseimbangan
dalam aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Seni musik memberikan sikap
percaya diri, terampil berkarya serta berkomunikasi dengan ide dan gagasannya
menjadi mantap. Seperti yang dikatakan oleh psikolog dari Universitas of
California, Mayer mengatakan bahwa anak yang senang akan musik atau menyanyi
akan menjadi pembaca, pemikir yang baik dari pada anak yang tidak senang akan
musik, seperti dikatakan oleh Cassidy yaitu psikologi dan antropologi (Totok S.
2004 : 92) bahwa pelajaran musik dapat dijadikan sebagai wahana yang sangat
baik untuk pembelajaran pemula dalam dunia pendidikan. Sehingga pembelajaran
seni musik melalui pembelajaran lagu wajib nasional digunakan sebagai sarana
dalam mencapai hal tersebut sekaligus tercapainya pendidikan karakter. Sebab karakter
seseorang atau sekumpulan orang atau bangsa berasal dari kebiasaan atau perilaku yang terbiasa (habits). Perilaku yang terbiasa berasal
dari tindakan pertama (action) yang
dikendalikan oleh cara berpikir (mind
seat). Sehingga langkah awal membangun karakter adalah harus di mulai dari
membangun cara berpikir (mind seat)
terlebih dahulu, sehingga bisa tercipta kebiasaan berpikir yang baik, kebiasaan
merasakan hal yang baik, kebiasaan berperilaku baik dan akhirnya adalah terbentuk karakter yang baik (good character).
Lagu wajib
nasional merupakan salah satu produk atau hasil karya cipta budaya masyarakat
Indonesia di bidang musik dan lagu wajib tersebut harus dapat dinyanyikan
oleh seluruh rakyat Indonesia, karena lagu wajib
nasional sebagai salah satu macam lagu
yang telah menyatu dan menjiwai
masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu ikon budaya masyarakat Indonesia,
kesenian ini mempunyai fungsi dalam berbagai aktivitas kehidupan sosial
masyarakat antara lain fungsi pendidikan, fungsi sosial, fungsi pelestarian dan
fungsi propaganda. Di tengah maraknya budaya barat yang
masuk ke Indonesia pendidikan seni musik merupakan salah satu sarana untuk
membentengi dampak yang ditimbulkan dari globalisasi dan melalui pembelajaran lagu
wajib nasional di sekolah ikut berkonstribusi dalam menumbuhkan nasionalisme pada siswa agar jati diri bangsa tetap
mengakar dalam diri siswa.
Peran guru
di sini sangat penting yaitu guru sebagai fasilitator, untuk dapat melaksanakan
pembelajaran seni musik di SD dengan baik, guru paling tidak harus memiliki
pengetahuan bagaimana membelajarkan musik pada anak SD, memiliki rasa suka pada
musik, kemauan untuk mengajarkan pada anak, pemahaman bahwa pembelajaran musik
mengutamakan tumbuhnya rasa musik meliputi rasa irama, rasa nada, harmonisasi,
kesukaan dan penghayatan musik, karena musik bukanlah pengetahuan yang bersifat
ingatan tetapi lebih pada pengembangan keterampilan dan tumbuhnya rasa estetika.
Dan dalam hal ini guru juga ikut andil dalam mengajarakan dasarr-dasar teknik
bernyanyi, unsur – unsur musik , memperkenalkan macam-macam lagu, dan mengapresiasi
lagu yang sudah diajarkan. Penerapan penguasaan lagu wajib nasional di sekolah digunakan untuk
menumbuhkan kembali semangat nasionalisme. Seorang guru sebagai sosok yang
paling berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah
menentukan sukses dan tidaknya sebuah proses pembelajaran dalam memanage sebuah pembelajaran tersebut.
Terkait dengan peran tersebut, sebagaimana dikatakan Soekanto (1982:268),
peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila
seorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia
menjalankan suatu peran. Tidak hanya mengetahui
peran guru itu sendiri tetapi juga memahami karakteristik siswa SD sebagai
berikut :
1.
Tahapan belajar sambil bermain.
2.
Ingin mengetahui segala hal
disekelilingnya.
3.
Memiliki prestasi yang tinggi.
4.
Tipe anak antara lain tipe visual,
auditori, dan kinestetik.
5.
Guru sebagai sumber utama.
Setelah guru memahami peranan dan karakteristik
siswa SD, dalam pembelajaran seni musik
guru harus mempunyai metode pembelajaran yang berkesan sesuai dengan
karakteristik siswa SD. Model yang bisa diterapkan adalah memadukan anatara
metode ceramah, simulasi atau praktek dan tanya jawab. Strategi menanamkan
kesan bisa dilakukan dengan meninggalkan siswa saat mereka belum kenyang rasa
penasarannya. Bila mereka ditinggalkan setelah kenyang, maka mereka akan segera
kehilangan minat lagi terhadap materi tersebut. Strategi tersebut bisa
digunakan dalam pembelajaran seni musik sebagai sisipan dari metode ceramah agar
siswa tertarik dalam pembelajaran seni musik dan dilanjutkan praktek atau simulasi sesuai dengan karakter siswa SD pada tahapan sambil belajar bermain “
berkreasilah” yaitu anak menebak sepenggal lagu wajib yang di nyanyikan oleh guru dan siswa menjawabnya. Hal ini bertujuan agar
guru dapat mengidentifikasi lagu yang sudah atau belum diketahui siswa. Setelah
diidentifikasi guru berperan sebagai contoh atau model yang menjelaskan macam-macam lagu wajib dan mempraktekkan dengan teknik bernyanyi
yang baik, harmonisasi dan melakukan apresiasi, karena siswa SD masih berfikir kongkret jadi masih mendapatkan bimbingan dari guru, terlebih pada
apresiasi lagu wajib. Bagan dari metode pembelajaran lagu wajib yang digunakan,
seperti pada bagan berikut.
Bagan
I
Metode
pembelajaran lagu wajib nasional
Pembelajaran
seni musik harus dikemas sedemikian rupa agar menyenangkan sehingga siswa tidak
takut untuk bernyanyi, sehingga melatih kreatifitas siswa dan meningkatkan
kecerdasan emosional. Ketiga metode diatas harus dilaksanakan secara
bersama-sama. Dan dalam penerapan
penguasaan lagu-lagu wajib
seorang guru hendaknya memiliki kecakapan
dan penguasaan terhadap materi tersebut serta memiliki program yang jelas agar materi yang diajarkan
dapat ditangkap dipahami oleh para siswa. Kemampuan mengajar perlu dimiliki
agar guru mantap dalam mengelola belajar-mengajar, percaya diri, kreatif dan
proaktif sehingga pembelajaran yang dilaksanakan meraih hasil yang memuaskan.
Adapun aspek-aspek yang diajarkan diantaranya: teori dasar musik, teknik dasar
menyanyi, sistem notasi lagu, teknik penyajian sebuah lagu. Setelah semua
aspek-aspek tersebut diajarkan maka langkah-langkah
pembelajaran lagu wajib antara lain.
1. Memilih
lagu model (lagu wajib).
Memilih lagu
model adalah guru memberikan beberapa lagu model seperti Indonesia Raya, Bagimu
Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa, Garuda
Pancasila, Dari Sabang Sampai Merauke,
Halo Halo Bandung, Bendera Merah Putih, Berkibarlah Benderaku, Hari
Merdeka, Indonesia Tetap Merdeka, Rayuan Pulau Kelapa dan Maju Tak Gentar.
Kemudian dipilih salah satu lagu wajib yang diajarkan, kalau sudah bisa
selanjutnya diajarkan lagu wajib lainnya.
2. Melafalkan
syair lagu wajib secara keseluruhan.
Melafalkan
syair disini guru memberikan teks atau menuliskan di papan tulis syair lagu
wajib tersebut kemudian memberikan
contoh cara menyanyikan lagu wajib dengan irama yang benar.
3. Menentukan
bentuk pembelajaran sesuai dengan tingkatan kelas.
Pembelajaran
seni didasarkan pada tingkatan kelas, namun diusahakan dalam pembelajaran seni
ini agar guru bisa memahami karakteristik siswa pada tingkatan kelas tersebut
dan melaksanakan pembelajaran
menyenangkan atau tidak membuat tegang
siswa.
4. Membahas
notasi atau nada yang ada dalam nyanyian tersebut.
Guru
memberikan contoh nada dalam nyanyian dan siswa mengikuti.
5. Mengadakan
kesepakatan gerak sesuai dengan lagu secara kelompok atau perorangan.
Guru dan siswa
mengadakan perjanjian atau kesepakatan untuk gerakan, ekspresi sesuai dengan
lagu wajib.
6. Guru
mendampingi dan membimbing kearah yang kreatif dalam kegiatan bernyanyi.
Siswa SD
membutuhkan bimbingan dari guru sebab dalam cara berfikrnya masih kongkret.
7.
Mengapresiasi lagu wajib atau lagu
nasional.
Guru dan siswa
mengapresiasi lagu wajib yang sudah dipelajari, sehingga siswa mengetahui makna
yang terkandung di dalam syair tersebut dan penjiwaan siswa terhadap lagu wajib tersebut dapat
dirasakan.
Ke tujuh langkah-langkah
pembelajaran lagu wajib ini harus
diperhatikan dalam proses pembelajaran, setelah itu guru juga harus mengajarkan
penjiwaan terhadap lagu yang dinyanyikan. Penjiwaan berarti pembawaan dengan baik suatu lagu sesuai
dengan jiwa dan makna lagu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rangka
menjiwai ( ekspresi) lagu yang akan dinyanyikan :
1.
Berusaha mengerti maksud atau isi syair yang akan dibawakan.
2.
Memahami tanda-tanda dinamik, tempo, dan tanda-tanda lain yang tertulis
dalam lagu tersebut.
3.
Menguasai pelafalan kata (artikulasi).
4.
Memahami pemenggalan kalimat musik ( frasering).
5.
Menghafal lagu tersebut secara keseluruhan.
Ketika
semua pembelajaran seni musik sudah diajarkan secara keseluruhan dibiasakan
sebelum pembelajaran guru memberikan tanya jawab mengenai macam-macam lagu
wajib dan sesaat sebelum pulang,
diusahakan guru meminta siswa bergantian maju ke depan untuk menyanyikan
lagu-lagu wajib tersebut. Sekolah juga ikut berperan dengan cara membiasakan
memutar lagu wajib setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Hal ini bertujuan agar
siswa terbiasa atau tidak asing dengan lagu wajib tersebut sehingga akan
melekat dalam memori dan lebih memahami Indonesia dengan baik melalui lagu-lagu
wajib itu.
Pembelajaran seni musik melalui model lagu nasional
siswa dalam proses belajar merasa senang dan tidak tertekan, sehingga makna
dari syair lagu, makna dari lagu tersebut bisa terkenang dalam diri siswa dan
tidak sekedar ingatan saja. Dan menghasilkan output yang cerdas dalam
intelegensi (IQ) dan emosional (ESQ).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan
uraian di atas dapat di simpulkan sebagai berikut.
1.
Pendidikan seni memberikan keseimbangan
rasional, emosional, dan kegiatan motorik.
2.
Pembelajaran seni musik tidak mengharapkan
anak menjadi seorang seniman, melainkan wahana berkreasi dan berimajinasi.
3.
Karakteristik anak SD salah satunya
adalah belajar sambil bermain, jadi pembelajaran seni musik harus bisa
memberikan kesan yang menyenagkan bagi siswa.
4.
Pembelajaran seni musik memberikan
gambaran teknik bernyanyi, menumbuhkan sikap apresiatif, dan emosional.
5.
Semua komponen pembelajar di sekolah dan
orang tua mendukung dalam pengimplementasian pendidikan karakter.
6.
Lagu wajib nasional memberikan arti
penting dalam pengimplementasian pendidikan karakter dalam hal ini siswa harus
terbiasa untuk diperdengarkan lagu wajib nasional agar melekat dalam memori
siswa dalam jangka panjang.
7.
Pembelajaran seni musik melalui lagu wajib nasional bertujuan menggali empati dan
menumbuhkan rasa nasionalisme sehingga membentuk karakter anak yang berbudi
luhur sesuai dengan jati diri bangsa, sehingga identitas diri bangsa tidak
hi.lang
Saran
Saran yang
diberikan terkait dengan pembelajaran lagu wajib nasional melalui seni musik antara lain :
1.
Pendidikan karakter dalam rangka
mencetak generasi muda yang cerdas dalam intelektual dan emosional melibatkan
berbagai komponen yang ada di sekolah.
2.
Guru harus mengetahui peranan dalam
pembelajaran, karakteristik siswa dan metode yang digunakan agar pembelajaran
seni musik bisa mendapatkan hasil yang diharapkan.
3.
Alokasi waktu yang sedikit diharapkan
bisa melaksanakan pembelajaran secara maksimal.
4.
Pembelajaran seni musik melalui model
lagu wajib tidak hanya ingatan semata melainkan bisa terkenang di dalam memori
siswa, agar nasionalisme tetap ada dalam diri siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Husen, Achmad dkk. 2010. Model Pendidikan Karakter Bangsa. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Mikarsa, Hera Lestari dkk. 2007. Pendidikan Anak di SD. Jakarta :
Universitas Terbuka
Puskurbuk. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter.Jakarta : Mendiknas
Safrina,
Rien. 2002. Pendidikan Seni Musik. Bandung
: CV. Maulana
Suwandi, Iwan dan Victoria D.
Christiyanti. Seni Budaya dan
Keterampilan untuk SD dan MI Kelas VI. Jakarta : Widya Utama
Syafii, dkk. 2006. Materi dan pembelajaran Kertakes SD. Jakarta : Universitas Terbuka
Tea, Taufik. 2009. Inspiring Teaching Mendidik
Penuh Inspirasi . Jakarta : Gema Insani
http://www.isi-dps.ac.id. “
Efektivitas Penerapan Penguasaan Lagu-Lagu Wajib Nasional Di SD-4 Saraswati
Denpasar” diunduh tanggal 15 Juni 2012
http://edukasi.kompasiana.com
. “Ironisnya Pendidikan Musik Di
SD” diunduh tanggal 15 Juni 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar